Tampilkan postingan dengan label home. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label home. Tampilkan semua postingan

Aku tak mau

Aku tak mau menjadi penerus kebusukan itu. Yap, hal yang terlanjur kukatakan busuk, satu keangkuhan. Tapi semakin mengkhawatirkan ketika keadaan seakan mengantarku kepada kebusukan itu. Sejujurnya, tak sedikitpun ada niatan menjadi seperti yang aku hina sebagai kebusukan. Aku hanya berusaha memberikan kebaikan. Aku hanya bisa berdoa semoga tak menjadi busuk. Dengan sepenuh hati, i.allah aku terima konsekuensinya. Jika itu benar terjadi, aku siap mendapati kebusukan itu. Dan aku siap memenuhi syarat. Syarat tentang jaminan kebaikan bersama. Hanya saja, jangan ambil dia dariku dahulu. Aku masih membutuhkannya. Sedikit dibalut nuansa romansa, kukatakan dia telah menjadi bagian dari semangat hidupku. Aku mohon...

Untuk besok

Aku tak minta kenikmatan dalam pikiran ini. Sebenarnya aku takut ketika kenikmatan itu benar-benar terjadi, namun sebenarnya itu buruk buatku. Aku takut... Engkau yang maha tahu, kesekian kalinya hamba yang berlumur dosa ini memohon, apapun yang terjadi besok adalah baik dan berkah untuk ku... Amien!!!

Sebuah renungan

Dalam kegelapan terbalut sunyi, sebuah kesempatan kembali kudapati diri ini sendirian bercengkrama sendu. Beberapa wajah itu menyapaku. Wajah-wajah yang membuatku tak bisa lagi menahan air mata. Mengiba ampunan dan permohonan kepada Tuhan. "ya Allah, wajah itu pernah memintaku menjadi lelaki yang kuat dan tangguh. Yang mengajakku menjadi insan seperti yang Kau minta. Dan wajah itu, tatapannya menghakimiku dengan putusan-putusan yang membuatku tak kuasa melanjutkan waktu yang tersisa, bahwa aku telah sesat, bahwa aku terlanjur kafir. Ya Allah, kemudian wajah yang itu tak lama tadi kulihat dia juga bersimpuh mendoakan seorang aku yang tak pernah membuatnya sedikit saja tersenyum. Dan wajahku sendiri menuduhku sebagai laki-laki munafik bermacam muka pembohong, sebagai harapan yang amat mengecewakan, sebagai insan yang paling tak pantas diberi kesempatan untuk hidup. Dan nyatanya aku sekarang masih hidup. Aku tak minta dimatikan, aku tak minta kembali dihidupkan dalam kesucian. Yang aku minta, disisa waktu yang Kau berikan, jagalah aku, sadarkan untuk segera memperbaikinya sebelum tiba waktuku. Aku tak ingin membebani, aku pun tak ingin membuat wajah-wajah itu menyesal. Aku tak ingin meninggalkan dunia ini dengan keadaan kekecewaan padaku. Sungguh, aku tak tahu harus bagaimana memulainya ?, mungkin sebenarnya Engkau telah menjawabnya dengan caramu yang sungguh menakjubkan. Tapi kurasa aku masih belum mampu memahaminya. YA ALLAH, Ya Tuhanku, saat ini kupanggil-panggil namamu, tanda aku sangat membutuhkanmu, sadarkan aku, sadarkan aku, sadarkan aku. Selamatkan aku dari tipu daya ini. HANYA PADAMU, SUNGGUH HANYA PADAMU YA RABB..." masih dalam selimut kebingungan, bingung dari sosok diriku ini, yang sangat hina. Aku hanya mampu pasrah padaMU YA RABB...

Kau lebih

Engkau lebih dari marisa sang dewi itali,
lebih dari sachiko si geisha, ataupun kanara...

U ar so simple 4 me... Awesome...

Sang petualang 3

Hingga rasa duka datang, saat kehilangan yang hadir telah membuka tabir perjuangan-perjuangan selama ini...
Ternyata perjuangan yang sebenarnya tak semegah khayalan, ataupun impian-impian yang sempat aku bincangkan dengan serius...
Perjuangan itu tak membicarakan tentang usaha2 dimana setiap minggu ada saja bahasan...
Ternyata tempat ini tak membutuhkan usaha pewujudan angan2 kita khalayak tua, aku paham angan2 itu adalah angan2 baik semuanya. Tapi aku tak melihat sebuah kemanusiaan disana.

Sampai pada kenyataan bahwa nyatanya mereka yang belakangan adalah sosok murni, tiba2 menjadi iblis berwujud malaikat. Tak nampak lagi panduis, ataupun pramukais murni.
Berulang kali mengucap ikrar2 kemarin, seperti ingin mengadu saja pada mereka. Tapi ikrar itu malah seakan membentakku.

TRI SATYA, DASA DHARMA, SANDI AMBALAN... Aku tak butuh itu diucapkan ataupun dihafalkan. Karena tak nampak lagi cerminan murni di sana.

Kutemani "mereka" dipersemayaman. Kunikmati, kucumbu kalau bisa.

Selamat tinggal, selamat jalan, walau mungkin ada yang menanti sampai kunjung datang, aku tetap ucapkan perpisahan ini. Tapi, tanpa atribut, tanpa seragam, tanpa empirisme kepanduan dan kepramukaan, aku kan jamin, aku tak akan menjadi pengkhianat ikrar2 itu, karena terlanjur aku kubur dalam hatiku saja...

Sang petualang 2

Aku hanya merasa ada yang salah...

Ketika dulu dituduh dan menuduh diriku sebagai korban penipuan sebuah perburuan anggota...
Ketika seragam, kegiatan, adat, aturan, prosedur, skill, dan pro kontra persepsi dan pendapat,
semua itu nol, bukan apa2, dan cuma kosong,
seperti tempat sampah punyaku...
Yang sampahnya adalah kebodohan-kebodohan tak masuk akal.

Aku mengalami proses dengan rasa tertipu, mendendam, dan segala tuduhan-tuduhan terpendam...

Saat di bayangkan adalah keakraban dengan alam, kehangatan

Sang petualang 1

Aku bukan seorang panduis, aku bukan pramukais, apa lagi tunas kelapais. Tak terbesit kebanggaan dalam balutan seragam coklat lengkap atribut. Buat apa tali temali, aku sudah berumah lengkap dengan tempat tidur. Buat apa kemah dan camping, aku bisa sewa hotel atau vila. Buat apa susah payah bersama, kita bisa membeli suka cita bersama. Buat apa setiap hari kumpul siang malam bicarakan kegiatan dan konsep, sedangkan kenyataan sebenarnya kita hanya memancing kemarahan orang tua. Buat apa baris berbaris, aku gak harus berbaris menuju tujuanku. Buat apa harus buang2 waktu mengurus pramuka, mengurus pandu, mengurus ketunaskelapaan yang disematkan dipundak itu.

Ha?? Apa? Pengabdian ?, pengabdian kepada siapa ?, pandu, pramuka, atau tunas kelapa ?, atau negara ?.aku rasa mereka tak butuh itu, atau pengabdian diatas gak berguna untuk mereka.

Tapi demi Tuhan aku bukan anti pramuka, aku bukan anti pandu, aku bukan anti lambang tunas kelapa.

Lalu... <di sang petualang selanjutnya...;-)>

Aku tak akan bicara banyak

Aku kehilangan moment...
Dimana saling percaya satu sama lain...
Dimana disetiap bersama adalah kehangatan...
Bukan curiga dan dingin sikap,
aku kehilangan keterbukaan,
bukan rahasia-rahasiaan...
Aku kehilangan tindak laku,
bukan konsep2 melulu...
Aku lelah ikut bergabung lagi...
Aku tak akan bicara banyak...
Kita sudah saling menjatuhkan,
kita sudah saling membunuh,
kita sudahi saja...
Menunggu pagi, atau menunggu gelap,
jika pagi, bangunlah dengan semangat,
jika senja, sayulah seperti mata dewa...
Maaf segala titipan dewa,
jadikan aku kembali sebagai malaikat, atau bukan apa apa...
Mungkin kesetiaan tak sebesar keyakinan,...
Selamat, mari kita sudahi dengan mosi tak percaya...
Semua langkah ssungguhnya hanya karena Allah...
Dalam alamnya, dalam humanioranya...

Kuliah oh kuliah oh i hate u

Seorang tua tanya "kamu kuliah ambil apa nak ??" tatapnya penuh kehangatan. Jawabku sambil tertunduk pasrah "ambil cuti aja nek"... Tampang nenek bangga, sumringah, pakek bungah... "nenek bangga sama pemuda kayak kamu..." tiba2 ada mobil ambulan berhenti di depan, keluar 2 orang berpakaian putih2 menyeret nenek tadi, dan dibawanya kabur. Bukannya tidak mau menyelamatkan, tapi seketika itu aku berusaha mengeja tulisan di bodi ambulan tadi. Selang ambulan tadi berlalu, aku baru sadar. Aku benar-benar terharu, bahwa status kemahasiswaan ini hanya nenek gila itu yang mengapresiasinya. Hujan pun turun seperti tahu perasaanku. Dan tak tahu kenapa tiba2 saja gaduh, aku lihat kejalan sudah banyak orang di sana mirip demo. Wajahnya memerah, dan lehernya keluar otot2 pita suara keras. Angin menerpaku bersama butiran-butiran air hujan mengabarkan suara itu. Ku eja lewat telinga dan terbaca "KEBAKARAN... CEPAT KELUAR MAS..." DAFUG... Ternyata nenek gila tadi sempat menyulut api di pojok warung tempatku duduk ini, dan hujan itu ternyata lemparan air dari warga. Langsung saja selamatkan diri, gak peduli harga diri sebagai mahasiswa yang kalau mati juga percuma... *krrr...

Semoga kegaringan dan kegejean di atas tak membuatku muntah. Tapi yang jelas, konsep-konsep pendidikan selama ini muspro di kepalaku bahkan sekarang dengan titel mahasiswa ini. Satu contoh konsep menuntut ilmu. Sejak kecil yang aku dengar bukanlah menuntut ilmu, melainkan sekolah. Dulu yang sering di dengar adalah "tadi masuk sekolah tidak ?, tadi sekolah ada pr ndak ?, dll" begitu pun dengan jawabanku. Sekarang aku baru sadar dua kata itu jauh beda makna secara normatif. Sekolah merupakan teritorial institusi pendidikan, dan itu konkrit. Konsep menuntut ilmu merupakan suatu yang abstrak, ke konkritannya terlihat dari hasilnya.

Satu hal sepele di atas mungkin saja tak disengaja karena sudah terbiasa. Namanya sepele mungkin tak menerima keterhubungan keduanya. Namun jika boleh menilai, ternyata sejak kecil aku tumbuh dengan budaya sepele, sehingga ketika tak sengaja memahami kesepelean tersebut...??

Tapi semua di atas sekedar hiburan. Sepaham apapun tentang masa lalu, masa lalu tak bisa di rubah. Tapi nanti, esok, dan hari2 selanjutnya yang wajib dipahami. Mau jadi mahasiswa yang seperti apa ?, mau jadi pemuda yang bagaimana ?. Percuma dan hanya akan buang2 waktu memperkarakan masa lalu. Dan sekali lagi, nostalgia ini mungkin bisa sedikit meredam emosi, amarah...

Jangan memperburuk diri dengan perbuatan2 buruk yang kau anggap baik,
jangan lupa sapa sira, sapa ingsun... Sejatinya selamat kita hanya itu...

Segelas, segumpal, senada, dan LEPAS

Yap, lama sudah tak menulis bebas. Mungkin kelamaan pakai perasaan, jadinya terlalu terbudakkan perasaan. Heheu... Sedikit mengulas kegalauan-kegalauan kemarin yang sempat bikin arah hidup gak jelas. Aku sekarang pun kadang senyum-senyum sendiri mengingat hal itu, nggak habis pikir sebab-sebabnya kegalauan itu yang sebenernya benar-benar sepele haha... Mulai dari kontrakan yang ada-ada aja hehe, trus pak rt baru, dan paling gak jelas adalah masalah cewek. Haha... Wong aq aja jomblo kok bisa bingung gara-gara cewek, ceweknya siapa mas... (semoga ada cewek tertarik habis baca ini, hwakakak...). Tapi ya udahlah, itu udah terjadi, anggep aja itu fase suramku hehe...
Sekarang adalah lembaran baru yang kesekian kalinya, lembar baru mungil, tapi cukup buat kembali bangun. Barusan aku posting sisa kegalauan kemarin. Yang semoga itu bener-bener sisa yang terakhir. Hari ini, ketika menulis ini, aku begitu berhasrat melangkah. Menyelesaikan sedikit perkara, dan mewujudkan rencana akhir pekan. Uye... Semangat yang cukup ini semoga bisa jadi alasan buat menang dalam perang jangka pendek ini.
Walaupun semalam nggak tidur (biasa, kutukan insomnia masih melekat padaku... Wkwk), tapi tak sampai membunuh gairah hidupku. Aseeek... Kebebasan kali ini aku beri tema, "SEGELAS, SEGUMPAL, SENADA, DAN LEPAS..." yaps... Itu gambaran pagiku yang cerah ini. Semua kata yang menjamuku, kata-kata yang aku nikmati. SEGELAS kopi panas, kopi tubruk yang sederhana, yang istimewa dalam aromanya segar. Tak ada minuman yang lebih pantas dari ini, minumannya pribumi yang tak neko-neko. Berasa seperti dikebun kopi dah... Hehe!!. Kemudian SEGUMPAL tembakau. Produk asli dalam negeri, olahan tangan-tangan profesional. Di sempurnakan takaran campuran wismilak satu ons dan setengah ons mentol. Dan yang paling menarik adalah membuatnya. Melintingnya menjadi sebatang rokok yang istimewa. Seni sederhana yang bagiku langka, apalagi sekarang udah banyak dijual rokok-rokok jadi. Tapi inilah, cerminan hidup, berupa proses dan pengorbanan. Selanjutnya adalah SENADA dengan alunan musik laptop. Ya, bagiku musik adalah sarana terapi yang paling ampuh untuk mendamaikan hati, menyederhanakan hidup menjadi lebih bisa dimengerti. Lewat lirik syahdu, musik mampu meredam emosi. Aku suka musik. Dan yang terakhir adalah LEPAS. Lepas yang aku maksud adalah kebebasan, seperti tulisanku saat ini. Sedikit mengulang kembali, rahasia umum bahwa satu anugerah yang dimiliki manusia adalah kebebasan. Kebebasan menginterpretasikan kode-kode semesta yang nampak disetiap mata terbuka.
Lengkap sudah pagiku dengan ekosistem ini, bagian-bagian yang saling melengkapi. Alam, pribadi, spiritual, dan realisasi. Indah bukan... Nikmati pagi kita kawan, nikmati dan jangan berhenti...

Kupecah kau...

"ya itulah, kamu dan dia nggak pernah berdua membicarakannya. Kamu dan dia cuma menerka-nerka, akhirnya pun yang kamu dan dia dapati cuma angan2 gak jelas. Memangnya kamu dan dia mau seperti ini terus ???, terhanyut dalam aliran keruh ini..." dia hujankan kata2 itu tepat didepan wajahku.
Sesaat kemudian, setelah menarik nafas dalam2, dia kembali menyercaku di depan mataku. "kenapa, kamu dan dia menikmatinya ?, iya kan... Menikmati untuk mengandai-andai setiap apa yang dari masing2 kamu atau dia tampilkan, Setiap kalimat yang kamu atau dia ucapkan. Kamu dan dia sama2 terlena hasrat berimajinasi yang belum tentu nyata itu kan, dan kamu dan dia sangat nyaman begitu." " ah, kau semakin menyudutkanku, memang benar benar aku begitu, pun juga dia", dalam hatiku mengumpat. Lalu tiba2 gaduh, seperti suara benda yang pecah terjatuh.

AKU BERLALU MENINGGALKAN KEPINGAN CERMIN YANG AKU PECAHKAN....

Negeri yang galau

Teringat pelajaran sejarah waktu sekolah dulu, sejarah indonesia. Sebuah negeri yang disuguhkan begitu indah dengan alamnya, kekayaan yang begitu mengagumkan. Mungkin aku cuma membayangkan wajah leluhurku, membayangkan kehidupannya. Begitu damai. Ingat cerita tentang kerajaan2 dulu, dari buku, guru, juga lewat "jaduman". Senyum sapa wajah pribumi yang santun. Martabat alam masih tinggi, moralitas masih murni. Kemudian islam masuk membawa pengetahuan religi. Masuk dengan sangat bersahabat. Hingga kehidupan kala itu semakin seimbang.
Penjajahan dan masa2 perjuangan menjadi garis sejarah yang tersisa dipelajari dibangku2 sekolah, bahkan mungkin tak sepenuhnya. Ketika negeri ini mulai belajar, ketika manusia2nya haus akan ilmu. Kita kebablasan. Kita terlalu terburu menggapai cita.
Sejarah telah dibelokkan, moralitas bobrok. Tinggalah yang kita saksikan setiap hari di media masa. Betapa kejam negeri ini. Sejarah tinggal menjadi dongeng tanpa pelajaran yang terbukti tak mampu mengobati karut marut negeri ini. Lihatlah, setiap hari kita disuguhi bentuk2 moralisme negeri ini yang kiat cacat. Golongan elit saling serang, rakyat jelata juga, orang berilmu sok tau dan beropini sendiri sendiri. Rakyat bingung, penguasa bingung, negara pun bingung. Monopoli negara adikuasa kian merajalela. Harga minyak naik, rakyat demo, dibalas dengan pembentukan undang2 anti rok mini, nazarudin merasa dipermainkan, anas ngancam dengan cara sok pemberani. Ngambil mangga jatuh dipenjara, ngambil sendal jepit dibui, anak2 perempuan diperjualbelikan, remaja doyan seks. Huh, seakan tiada habisnya melihat kebobrokan negeri ini. Dan ya, memang negeri ini bobrok dan mungkin bkal tambah bobrok.
Hai kalian pendahulu kami, para ketua suku, para raja, para pejuang, para founding fther, para leluhur, para nenek moyang, para rakyat yang mungkin telah diberi tahu kebenaran oleh Tuhan. Mungkin aku salah menilai seperti ini, tapi mungkin juga tidak. Tapi siapapun dan apapun kebenaran itu, aku rasa membunuh tetaplah membunuh, buruk adalah memang buruk.
Aku mengerti kegalauan ini. Dampak sistematis sebuah konspirasi. Entah siapa dibelakang semua ini, yang jelas Tuhan terbukti melihat.
Satu yang masih kucintai, dan sangat kucintai dari negeri ini, dan aku harap ini tak pernah berakhir. Adalah alam negeri ini yang diciptakan Tuhan untuk patut dan sangat untuk dicintai.

Sebobrok apapun negeriku,
kau masih punya mahameru lengkap dengan ranu kumbolonya, kau masih punya merapi yang penuh misteri, kau masih punya lawu yang penuh kejutan,
belum lagi pesisir selatan yang tak habis keindahaan laut kidulan walau dunia sudah modern,
alammu yang tak bisa dirasuki konspirasi dunia, yg tak teracuni globalisasi, yg tak terpengaruh kemunduran jaman.
Biar keadaan ini mundur, asal kau tetap disana...
Aku cinta, sangat cinta alammu,
oh negeriku yang galau...

Kosmostate

Konsep negara jaman dulu. Jaman para raja. Dimana seorang raja berkewajiban menyelaraskan dua objek, antara makro dan mikro. Dimana makro adalah alam semesta termasuk hal nampak maupun tidak nampak. Sedangkan mikro adalah manusia2nya. Manusia hidup di alam semesta, dan alam semesta adalah tempal tinggal manusia. Bisa dibilang kosmo state merupakan konsep murni sebuah negara. Walau pada dasarnya konsep ini sudah berlaku jaman dulu, namun dirasa tidak kuno. Justru ilustrasi tentang kosmostate lebih stabil ketimbang bentuk negara jaman sekarang yang sering terjadi benturan.
Dalam kosmostate, seorang raja memiliki kelebihan mampu membaca dan memahami alam semesta.
HARGAILAH SEMESTA, TERMASUK BUDAYANYA. JANGAN PRAGMATIS, DUNIA SUDAH TUA KAWAN.

Tuhan, buat aku berani...

Huh, apa itu berani ?. Ada banyak macam makna berani. Satu orang dengan yang lain bisa saja berbeda. Ada yang bilang, berani adalah anarkis, tak pandang lawan siapa, tak mundur. Ada juga yang bilang berani adalah kenekatan tanpa persiapan. Berani adalah bernyali menantang bahaya. Berani adalah mengatasi gugup di depan orang banyak. Dan berani2 yang lain yang bermacam-macam. Semua perbedaan itu terletak pada variabelnya, tergantung dari mana makna berani itu dipandang. Bahkan bisa saja, yang dianggap seseorang apa itu berani, justru dianggap angkuh dimata yang lain.
Merumuskan itu rumit. Bisa dibilang ketahanan untuk masih hidup sampai sekarang juga berkat sesuatu yang kita sendiri tak memahami konsepnya. Kadang keberanian datang tanpa disadari, tapi justru ketika kita berupaya untuk berani, justru malah ragu. Hah, kalau memang berani tak perlu kerja keras, kenapa masih banyak orang stres ?, kenapa masih banyak orang putus asa ?, kenapa masih banyak orang yang memilih "sembunyi" ?. Banyak sekali kenyataan yang membuktikan bahwa tidak semua orang di dunia ini berani. Dan jika alasan kita masih hidup sampai sekarang adalah berkat keberanian, pastinya berani bukan sekedar kebalikan takut saja. Lebih dari itu, berani adalah sesuatu yang berharga dan penuh misteri.
Melihat berani sebagai adjektiva maka tak lepas dari ranah psikologis manusia. Dan tidak bisa menilai sebagai positif atau negatif karena psikologis setiap orang beda2.
Namun bagaimanapun, berani dimanapun tempatnya pasti diiringi dengan tekad yang kuat. Konsep berani muncul ketika seorang manusia dihadapkan pada sesuatu yang dianggap menghalangi atau menghambat. Sering kita bersyukur telah menyelesaikan suatu masalah, baik sepele ataupun tidak. Tapi kita lupa bahwa disitu pun ada bentuk berani yang menyertai. Misal sewaktu dijalan pada malam hari ban sepeda motor pecah, dan tidak menemui tukang tambal ban disepanjang jalan. Akhirnya pun mendorong sampai rumah dan masalah setidaknya tidak lagi berat walaupun masih harus menambalnya diesok hari. Sering kita mencaci keadaan dan melupakan segala bentuk pembelajaran dari suatu peristiwa yang dialami. Kita tak sadar bahwa telah berani memilih menuntun kendaraan sampai dirumah, berani menilai bahwa itu satu2nya jalan.
Dari beberapa fenomena sosial, banyak intepretasi dengan berbagai macam variabel sudut pandang mengenai konsep berani. Ternyata semua itu sama ketika dikembalikan kepada kita sebagai manusia. Bahwa manusia yang sesungguhnya insan yang bebas. Bahwa manusia berhak menghargai dia sebagai manusia adalah ketika dia menjadi insan yang bebas. Bahwa berani adalah biasan dari konsep bebas itu sendiri. Bisa dibilang, TIDAK ADA MANUSIA YANG TIDAK BERANI, KECUALI MANUSIA YANG TAKUT HIDUP. BAHWA MANUSIA YANG BERANI ADALAH MANUSIA YANG BISA MEMAINKAN KETAKUTAN AKAN SESUATU DIHADAPANNYA YANG MENGHALANGI ATAU MENGHAMBAT. Sepakat untuk menyikapi bahwa hidup adalah tinggal persoalan menunda mati, maka tidak ada orang yang takut hidup. Bahwasanya setiap yang mati pasti pernah hidup.
Namun kembali bicara soal berani, ada satu hal yang lebih merugikan ketimbang takut. Yakni rasa ragu2. Bukan berarti ragu2 tidak mungkin berani, tapi ada berani dengan ragu2. Sungguh itu siksaan bagi orang hidup dalam menghadapi setiap permasalahan. Butuh tekad yang murni, butuh niatan yang kuat, agar bisa berani dengan sepenuhnya berani.
Salah satunya keberanian untuk membenci yang tidak ingin dibenci. Setiap menyatakan tekad untuk berani selalu muncul kata tapi. Negosiasi keputusan yang berujung pada keraguan. Hingga pasrah pada waktu yang mungkin saja tak menjawab, malah justru semakin menyiksa.
Teringat Tuhan sebagai bentuk kesempurnaan. Kepada Tuhan mohon berilah hamba keberanian, tegaskanlah tekad hamba untuk berani bersikap seperti yang disampaikan perumpamaan2MU yang datang berkali kali. Jadikan hamba insan yang berani berbuat baik sesuai perintahMU. Apapun makna berani bagiMU, sebagai manusia sadarkan hamba adalah ciptaanmu. Yang Telah kau gariskan hukum alam masa depan hamba. Jadilah keraguan ini sebagai proses ketegasanku untuk sebuah bentuk berani yang tak salah arah. TUHAN BERIKAN AKU SEBAGAI INSAN YANG BERANI...

Satu lagi kontradiksi

Sederhana...
Ya, aku ingin sederhana,
tak ingin terlalu membenci,
tak juga melulu memuja muja cinta.

Bebas,
aku ingin bebas...
Bebas dari derita cemburu,
tapi juga bebas menjadi pemilik hati...

Ah aku bukan pujangga yang bisa membuat benci menjadi indah,
yang mampu merajut rindu yang selaras rasa.

Aku hanya tak mampu menggapai kesederhanaan dan justru mengingkarinya,
aku hanya tak mampu bebas dan memilih terpenjara dalam ilusi perdebatan rasa.

Bak perahu cabik, setiap ombak adalah setiap aku melihat, mendengar, dan mendapati tentang rasa yang mungkin telah mati di satu pihak,
setiap gelombangnya mengombang ambingkanku,
tapi menahanku agar tak terbalik,
agar tetap ombak memankannya...

Sungguh perdebatan tak masuk akal,
seharusnya mudah ku lewatinya,
dimana aku menerimanya ??,
aku nikmati saja ini,
satu lagi kontradiksi
satu lagi ilusi...

Badai pasti kan datang

Bias mentari dari embun pagi...
Pelangi2 kecil bertebaran diatas daun2,
Burung gereja mengejarnya,
Loncat dari ranting ke ranting, dahan ke dahan,
Pecahkan butir air embun menjadi buih halus terbang di udara.

Selagi belum terik,
Selagi belum habis kesejukan pagi.

Di ujung tinggi pohon tua lebat,
Burung gereja tersenyum terbahagia,
Berkhayal...
Berangan...
Merasa...

Menengok dunia bawah yang begitu kecil...
Burung gereja diterpa bahagia...
Dia dapatkan surga...
Surganya para pemilik alasan untuk hidup.

Namun,,,
Dunia tak selalu indah,
setiap khayalan, setiap angan,
tak selalu bersenandung merdu...

Sudah kubilang, yang mengerti badai, yang mengerti ajal, yang mengerti penderitaan, yang mengerti pengorbanan cuma satu,
MEREKA YANG MEMILIKI ALASAN UNTUK PANTAS HIDUP...

Kemana perginya pertanyaan2 itu...

Kulihat tenda biru...
Bukan,
ini bukan pesta pernikahan,
bukan hari perayaan dewa dewi cinta,
tapi di sini ada cinta,
namun juga seperti cintanya dewi shinta.

Sudah lewat tengah malam,
di depanku ada sepasang remaja asik bercumbu dibayang2 pohon,
saling memanggut bibir,
bersandar pada pagar sebuah jawatan,
sambil duduk dan saling meraba mesra...

Bangsat!!
Ya aku hanya bilang bangsat...
Bisa dibilang menutupi perasaan binal saja,
tapi aku lebih tersinggung,
Dunia ini kian tak nyaman,
malamnya tak lagi nyenyak,
siangnya cuma kemalasan.

Mungkin bisa saja ku kuatkan sujudku,
memintakan ampun dosa2 penghuni dunia ini,
tapi ketika berhadapan dengan diriku,
semua kembali sunyi,
tak ada kata2 penyesalan,
hanya diam tanpa renung.

Lalu dimana pertanyaan2 itu,
pertanyaan yang membuatku belajar,
pertanyaan yang mendinginkan emosi,
pertanyaan yang tak mengadili satu macam sudut pandang,
pertanyaan yang membuat tak terburu egois...

Aku merindukan pertanyaan2 itu setiap malam,
sehingga tak hanya gelap, tak hanya kelam...

Pertanyaan yg hilang itu yang membuatnya seperti di atas...

Dukamu dukaku

Kulihat lagi... Satu matahari yang tenggelam dalam jurang cakrawala...
Sabar kawan...
Aku kan disebelahmu, duduk dan kubantu melewati dukamu...
Walau bagaimanapun, tak pernah kubisa mengerti dukamu...
Tapi percayalah, bukankah kau ingat mungkin...
Bahwa aku pernah duduk di situ, ditempatmu sekarang...
Juga menatap surya tenggelam...
Menangis sajalah...
Semua akan tiba pada giliran kita...
Sebagai mentari...
Atau sebagai daun gugur yang tak ada orang menderu...
Yang jelas itu akan tiba...
Jadilah janji kepadanya, sebagai kegembiraan baginya didasar jurang...
Aku tetap disebelahmu, sebagai kawan, lawan, atau bukan apa apa...
Aku hanya merasa sama...
Bahwa dukamu juga dukaku...

Waduh, krisis mahasiswa...

Yang dimaksud krisi mahasiswa bukanlah kekurangan mahasiswa. Mahasiswa itu banyak banget, sampai2 kuliahpun dijalanan. Tapi hari ini aku miris melihat rekan2 mahasiswa. Kalo boleh bilang pada bego semua. Sebagai mahasiswa seharusnya cara berfikirnya kudu beda, kudu lebih dewasa. Juga termasuk cara berkomunikasi. Masak waktu hari pertama kuliah, seperti biasa bikin kesepakatan kontrak dengan dosen. Masak ada yang minta toleransi waktu keterlambatan sampai 1jam. Dewasa dikit napa, tambah nunjuk2in kemalasannya. Belum lagi waktu suruh tanya, cuma satu dan itu pun gak mutu. Dan yang lebih parah masih juga ada satu mahasiswa yang duduknya dibelakang sedang menyangga dagu, dan matanya tembem kelihatan semalam habis begadang sampai pagi. Dan rambutnya acak2an seperti belum mandi, haduwh. Dan itu AKU...

Ngantuk poll...

Tidur cuma 2jam. Bangun2 langsung kuliah. Seperti biasa tanpa mandi:-D, cuma cuci muka plus perbanyak parfum. Berangkat dah ke kampus. Dan benar... Sampek kelas mata berat bnget, dtambah pilek hufh... Pengen banget cpet pulang tapi sama aja habis ini ada jam lagi sampek jam 12. Hadah... Laperr, ngantuk. Sabar aja dulu ah...

About Me

Foto Saya
fahma alfian
kopipun berubah jadi susu seiring aku melangkah untuk belajar... bukan tentang pahitnya kopi, bukanpula manisnya susu... mereka sama-sama benar pada ruang dan waktunya masing-masing......
Lihat profil lengkapku