Badai pasti kan datang

Bias mentari dari embun pagi...
Pelangi2 kecil bertebaran diatas daun2,
Burung gereja mengejarnya,
Loncat dari ranting ke ranting, dahan ke dahan,
Pecahkan butir air embun menjadi buih halus terbang di udara.

Selagi belum terik,
Selagi belum habis kesejukan pagi.

Di ujung tinggi pohon tua lebat,
Burung gereja tersenyum terbahagia,
Berkhayal...
Berangan...
Merasa...

Menengok dunia bawah yang begitu kecil...
Burung gereja diterpa bahagia...
Dia dapatkan surga...
Surganya para pemilik alasan untuk hidup.

Namun,,,
Dunia tak selalu indah,
setiap khayalan, setiap angan,
tak selalu bersenandung merdu...

Sudah kubilang, yang mengerti badai, yang mengerti ajal, yang mengerti penderitaan, yang mengerti pengorbanan cuma satu,
MEREKA YANG MEMILIKI ALASAN UNTUK PANTAS HIDUP...

Kemana perginya pertanyaan2 itu...

Kulihat tenda biru...
Bukan,
ini bukan pesta pernikahan,
bukan hari perayaan dewa dewi cinta,
tapi di sini ada cinta,
namun juga seperti cintanya dewi shinta.

Sudah lewat tengah malam,
di depanku ada sepasang remaja asik bercumbu dibayang2 pohon,
saling memanggut bibir,
bersandar pada pagar sebuah jawatan,
sambil duduk dan saling meraba mesra...

Bangsat!!
Ya aku hanya bilang bangsat...
Bisa dibilang menutupi perasaan binal saja,
tapi aku lebih tersinggung,
Dunia ini kian tak nyaman,
malamnya tak lagi nyenyak,
siangnya cuma kemalasan.

Mungkin bisa saja ku kuatkan sujudku,
memintakan ampun dosa2 penghuni dunia ini,
tapi ketika berhadapan dengan diriku,
semua kembali sunyi,
tak ada kata2 penyesalan,
hanya diam tanpa renung.

Lalu dimana pertanyaan2 itu,
pertanyaan yang membuatku belajar,
pertanyaan yang mendinginkan emosi,
pertanyaan yang tak mengadili satu macam sudut pandang,
pertanyaan yang membuat tak terburu egois...

Aku merindukan pertanyaan2 itu setiap malam,
sehingga tak hanya gelap, tak hanya kelam...

Pertanyaan yg hilang itu yang membuatnya seperti di atas...

Dukamu dukaku

Kulihat lagi... Satu matahari yang tenggelam dalam jurang cakrawala...
Sabar kawan...
Aku kan disebelahmu, duduk dan kubantu melewati dukamu...
Walau bagaimanapun, tak pernah kubisa mengerti dukamu...
Tapi percayalah, bukankah kau ingat mungkin...
Bahwa aku pernah duduk di situ, ditempatmu sekarang...
Juga menatap surya tenggelam...
Menangis sajalah...
Semua akan tiba pada giliran kita...
Sebagai mentari...
Atau sebagai daun gugur yang tak ada orang menderu...
Yang jelas itu akan tiba...
Jadilah janji kepadanya, sebagai kegembiraan baginya didasar jurang...
Aku tetap disebelahmu, sebagai kawan, lawan, atau bukan apa apa...
Aku hanya merasa sama...
Bahwa dukamu juga dukaku...

About Me

Foto Saya
fahma alfian
kopipun berubah jadi susu seiring aku melangkah untuk belajar... bukan tentang pahitnya kopi, bukanpula manisnya susu... mereka sama-sama benar pada ruang dan waktunya masing-masing......
Lihat profil lengkapku