Wawancara di Negeri Dongeng

bukan maksudku,
dan juga bukan inginku,
ini tiba begitu saja tanpa aku duga...
jika ditanya apa aku suka ?
aku ngga' berani jawab "ya",
tapi aku juga ngga' mau bilang "tidak"...
jika ditanya apa alasannya ?
aku jawab " ngga' ada alasan atau sebab apapun yang buat aku suka,
karena ini datang begitu saja tanpa aku sadari dan aku minta"...
terus apa yang kamu suka darinya ?
aku bilang " ya aku suka dia seutuh dan sepenuh seperti apa yang aku dan kamu lihat
saat kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya dari dia. bukan hanya sebagian atau dari salah satu sisi darinya saja"....
lalu kenapa ngga' kamu katakan ?
jawabku " karena aku menjaga kebahagian tetap menjadi temanku"
maksudmu ?
"karena percuma kalau terburu-buru jika cuma sekejap lalu datang luka.
masih banyak hal yang belum tercapai"...
terus kenapa kamu hanya bisa diam bak seorang pecundang ?
aku bilang " aku bukanlah seorang pecundang tentunya.
memang begitulah mungkin caraku menyukainya saat ini"..
manusia tanpa kata

HHhhmm......
diam tanpa bahasa,
nggak tau suka, ataupun luka...
semua cerita beri aku tanya,
hingga malam selalu kirimkan air mata...
mungkin juga,
masih banyak cerita yang berakhir sama...
entah kapan dan dimana,
yang jelas aku selalu sama...
diam menyimpan rahasia,
biarkan angin ini yang menyapu luka...
meski lara,
tapi ini mungkin baiknya...
masih banyak cita dan cerita,
yang entah suka atau duka...
mimpikan saja tentang cinta,
meski yang ditanggung belum tentu sperti yang diminta...
mimpikan saja tentang suka,
meski yang diterima bukan bahagia...
tapi jangan lagi beriku tanya,
jika tak mau terluka...
saat ini aku hanya manusia tanpa kata,
yang mungkin menyimpan banyak cerita,
yang penuh dengan rahasia...
silahkan kalian yang mau berkata entah apa,
jelaslah aku tetap diam menyimpan tanya...
KARENA AKU SEDANG MENJADI MANUSIA TANPA KATA...
warna..!!!!
awalnya kelihatan putih.....
lalu merah...
biru...
kuning...
(begitu berwarnanya duniaku kala itu, dan begitu indah ketika hidup ini cerah, secerah mentari membangunkan hari bersama embun yang memandikan daun, sejuk dan harum semerbak yang ditawarkan bunga di taman. tak ada yang lebih bahagia ketika terbangun dengan bibir dapat tersenyum!!!!)
kemudian berubah mengabu...
yah abu abu...
dan semakin menebal diatas kepalaku...
menjadikannya semakin hitam...
sampailah pada hitam pekat tanpa pencerah...
(ketidak terimaan kepada keadaan memang wajar, semua hidup pasti berubah, seringkali menyalahkan waktu sebagai kambing hitam, ketegaran hati sulit dibangun tanpa pondasi, tak selamanya....)
lalu merah...
biru...
kuning...
(begitu berwarnanya duniaku kala itu, dan begitu indah ketika hidup ini cerah, secerah mentari membangunkan hari bersama embun yang memandikan daun, sejuk dan harum semerbak yang ditawarkan bunga di taman. tak ada yang lebih bahagia ketika terbangun dengan bibir dapat tersenyum!!!!)
kemudian berubah mengabu...
yah abu abu...
dan semakin menebal diatas kepalaku...
menjadikannya semakin hitam...
sampailah pada hitam pekat tanpa pencerah...
(ketidak terimaan kepada keadaan memang wajar, semua hidup pasti berubah, seringkali menyalahkan waktu sebagai kambing hitam, ketegaran hati sulit dibangun tanpa pondasi, tak selamanya....)
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
About Me
- fahma alfian
- kopipun berubah jadi susu seiring aku melangkah untuk belajar... bukan tentang pahitnya kopi, bukanpula manisnya susu... mereka sama-sama benar pada ruang dan waktunya masing-masing......